Google+ Followers

Home » » Sinopsis K-Drama~ Love Rain Episode 1

Sinopsis K-Drama~ Love Rain Episode 1


Bagi yang belum nonton K'Drama ini dan penasaran bagaimana kisahnya yuk ikutin sinopsis drama ini

~Sinopsis Love Rain Episode 1~
Tahun 1970-an

Dap..dap.. dap..
Terdengar suara langkah kaki seorang wanita bernama Kim Yoon-hee (Yoona), yang sedang berjalan di taman kampus.
“Satu, dua tiga,” ucap Seo In-ha (Jang Geun Suk) di dalam hati. Seo In-ha menatap gadis yang melewatinya dengan tatapan terpesona. “Hanya dalam waktu tiga detik, aku jatuh cinta.”

Di sebuah restoran, Kim Chang-mo (Seo In-guk) sedang bermain gitar sambil menyanyi untuk menghibur para pengunjung reatoran. Di belakang Kim Chang-mo, si pembawa acara, Lee Dong-wook (Kim Shi-hoo), sedang menyiapkan lagu terkenal dari film Love Story.
“Dia baru saja memainkan ‘C’est La Vie’ dalam versi gitar akustik. Tapi permainannya tidak sebaik aku,” goda pembawa acara itu. Kim Chang-mo berpura-pura seakan-akan akan memukul si pembawa acara. “Suara yang sangat merdu. Kim Chang-mo.”
“Lagu selanjutnya diminta oleh seorang wanita cantik beraroma bunga lili dan memakai syal kuning.”
Sang fans si pembawa acara merasa senang karena permintaanya dipenuhi.
Kejadian itu membuat Kim Chang Mo kesal. “Aku tidak mendapatkan perhatian sebesar itu meskipun aku menyanyi sampai suaraku serak. Sedangkan dia hanya perlu menunjukkan wajahnya. Aku benci dia,” kata Kim Chang Mo pada Baek Hye-jung (Son Eun-seo) yang duduk di sebelahnya.
Kim Chang Mo akan mengambil gelas minuman Hye-jung namun tangannya dipukul.

Seo In-ha sedang melukis di atas kanvas di sebuah studio. Dia berdiri untuk membuka kaca jendela. Dia akan membalikkan badan, namun menoleh lagi karena dia melihat gadis pujaannya sedang duduk di bangku taman sambil membaca buku. “Cinta pada pandangan pertama...” katanya dalam hati sambil terus memandangi gadis itu.
Seo In-ha langsung mengambil buku lukis dan mulai menggambar Yoon-he di bukunya sambil bersandar di dinding.

Lee Dong-wook sudah selesai bertugas dan duduk satu meja dengan Kim Chang Mo dan Hye-jung. Dong-wook mencari In-ha dan dijawab oleh Hye-jung bahwa In-ha masih di studio.
Chang Mo bermaksud mengambil minuman Hye-jung lagi dan lagi-lagi tangannya dipukul. “Itu punyamu juga?” tanya Chang Mo menutupi perbuatannya.
Dong-wook hanya tertawa melihat kelakuan Chang Mo dan Hye-jung.
“Ah, aku dengar kalian akan berkelahi malam ini?” tanya Hye-jung pada Dong-wook.
“Dia dan In-ha?” tanya Chang-mo tidak percaya.
“Sekarang kedudukan 10 dari 11. Ini akan menjadi perkelahian kami yang seru,”jawab Dong-wok.
“Jam berapa malam ini? Apa taruhannya?” tanya Chang-mo penasaran.
“Seorang wanita,” jawab Dong-wook.
Hye-jung dan Chang-mo sama-sama tidak percaya mereka akan memperebutkan wanita.
“In-ha jatuh cinta pada seorang wanita,” kata Dong-wook.
Chang-mo dan Hye-jung berpandangan. “Tidak mungkin!” kata mereka bersamaan.
“In-ha tidak mungkin jatuh cinta,” kata Hye-jung.
“Aku sudah tiga tahun tinggal bersamanya di asrama. Aku tidak pernah melihatnya bersama dengan wanita,” sambung Chang-mo.
“Coba saja letakkan In-ha dengan seorang wanita di pulau terpencil. Aku bertaruh dia tidak akan mengajak bicara wanita itu,” kata Hye-jung lagi.
“Aku serius! In-ha benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama,” kata Dong-wook.
“Benarkah?” Hye-jung terlihat cemburu.

In-ha masih menggambar Yoon-hee yang sedang duduk di bangku taman dengan bukunya. In-ha tersenyum geli saat melihat gadis itu menggaruk kakinya yang gatal karena gigitan serangga. Dia melanjutkan menggambar, namun saat dia akan melihat Yoon-hee lagi, ternyata Yoon-hee sudah pergi.
In-ha yang kaget langsung berlari keluar menuju taman. Dia menoleh ke sana-kemari mencari sosok Yoon-hee, namun In-ha tidak menemukannya. In-ha berlari lagi mencari ke tempat lain. Karena tidak memperhatikan depannya, In-ha menabrak Yoon-hee hingga barang-barangnya jatuh.
In-ha langsung meminta maaf dan berjongkok mengambil barang-barang Yoon-hee.
Saat akan memberikan ke Yoon-hee, In-ha baru sadar bahwa yang ditabraknya adalah gadis yang disukainya. “Tiba-tiba-jantungku berdetak seperti gila,” kata In-ha sambil terpesona. Yoon-hee merasa diperhatikan In-ha lalu menoleh. Namun In-ha langsung melanjutkan memunguti barang-barang Yoon-hee. Saat akan berdiri, kepala mereka terantuk.
“Maaf,” kata In-ha sekali lagi sambil menyerahkan buku ke Yoon-hee.
“Terima kasih,” kata Yoon-hee lalu dia berjalan pergi, namun tangannya ditahan oleh In-ha. “Umm..” kata In-ha, bingung akan berkata bagaimana.
“Ya?” tanya Yoon-hee.
In-ha bingung akan mengatakan apa. Dia melepaskan tangannya dari Yoon-hee.
“Tidak apa-apa,” kata In-ha sambil menganggukkan kepala dan berjalan pergi dengan enggan.
Yoon-hee merasa aneh, namun dia tidak mengatakan apa-apa dan berjalan pergi juga.

Dari pengeras suara terdengar perintah untuk berhenti dan memberi hormat ke bendera Korea yang akan diturunkan. Semua orang menghadap tiang bendera dan meletakkan tangan di dada. Lagu kebangsaan Korea diputar.
In-ha yang posisi berdirinya di depan Yoon-he secara perlahan mundur, sehingga posisinya sejajar dengan Yoon-hee.
In-ha menoleh memandang Yoon-hee. “Hal lucu yang aku pikirkan, adalah bahwa aku dilahirkan di dunia untuk mencintainya,” kata In-ha dalam hati sambil terus memandang Yoon-hee.
Yoon-hee yang merasa diperhatikan menoleh, tapi In-ha langsung membuang muka.

Setelah penurunan bendera selesai, Yoon-hee langsung beranjak pergi.
In-ha memandangi Yoon-hee yang berjalan pergi lalu menghela nafas kesal karena dia tidak bisa berkata apa-apa di depan Yoon-hee.
In-ha akan berjalan pergi, tapi dia baru ingat bahwa pensilnya terjatuh saat bertabrakan dengan Yoon-hee. Dia mencari pensilnya dan memungutnya. Tiba-tiba dia melihat bahwa buku Yoon-hee ada yang terjatuh di rerumputan dan tertinggal.
In-ha akan menyusul Yoon-hee namun mengurungkan niatnya. Dia membuka buku Yoon-hee dan membaca nama Yoon-hee di buku itu. In-ha melanjutkan membuka buku itu yang ternyata adalah buku harian Yoon-hee.
In-ha akan menyusul Yoon-hee dan mengembalikannya namun dia dipanggil oleh teman-temannya. In-ha langsung menyembunyikan diari Yoon-hee di belakang punggungnya. Dong-wook mengeluarkan gitar yang dibawanya. In-ha langsung semangat. “Kita bermain demi ini,” kata Dong-wook.

In-ha dan Dong-wook bertanding tenis. Chang-mo menjadi wasitnya.
Para wanita menonton mereka dan berteriak histeris saat In-ha memperoleh poin. Hye-jung dengan bersemangat menyoraki In-ha.
Chang-mo bertanya mengapa Hye-jung selalu mendukung In-ha.
“Karena Dong-wook ingin mengambil hak In-ha,” jawab Hye-jung.
“Tapi mereka melihat gadis itu bersamaan,” bantah Chang-mo.
“Tidak. Dong-wook selalu menyukai apa yang In-ha sukai,” kata Hye-jung lagi. (hmm, ada aroma persaingan nih..)

Di saat bersamaan, Yoon-hee melewati lapangan tenis. Dia melihat temannya, Hwang In-sook (Hwang Bo-ra) dan gadis-gadis lain heboh menyoraki In-ha. Yoon-hee melihat ke arah In-ha dengan penasaran.
“Suh In-ha?” Dia merasa senang karena akhirnya tahu nama In-ha.
Yoon-hee ikut senang saat In-ha memperoleh poin, namun dia merasa malu bila berteriak-teriak seperti gadis lain. Dia memutuskan untuk pergi, tapi karena buru-buru dia menabrak orang lain dan barang-barangnya terjatuh lagi.

In-ha melihat Yoon-hee yang memunguti barang-barangnya.
Yoon-hee memunguti barangnya dengan kesal karena dia hari ini menabrak orang terus. Dia menyadari bahwa diarinya tidak ada di tas dan langsung berlari mencari diarinya. Dong-wook merasa heran karena In-ha diam saja sambil memandang ke tepi lapangan. “Hari di mana aku merindukannya berkali-kali, aku sudah jatuh cinta,” kata In-ha dalam hati. (puitis banget si In-ha. Selalu berkata dengan kata-kata puisi.. ^^)

In-ha menyeret Chang-mo yang mabuk ke asrama dengan berhati-hati karena dia takut ketahuan. Sesampainya di kamar, In-ha membuka-buka diari Yoon-he dan membaca tulisan Yoon-hee.
‘Cinta tidak pernah mengatakan maaf’
Itulah kalimat dari film Love Story yang orang tuaku suka tonton sebelum mereka meninggal. Aku masih belum mengerti arti kalimat ini.

“Orang tuanya sudah meninggal ternyata,” kata In-ha berbicara sendiri. Lalu dia memasukkan diari itu ke tasnya lagi.

In-ha menunggu Yoon-hee untuk mengembalikan diarinya. Tapi dia menjadi pusat perhatian para wanita. Dia sudah lama menunggu tapi tidak bertemu dengan Yoon-hee. In-ha memutuskan pergi.
“Umm, permisi,” terdengar suara wanita memanggil In-ha.
Ternyata yang memanggilnya adalah Yoon-hee.
“Umm.. Apakah kau menemukan diariku..., maksudku buku kuning kemarin?”
In-ha akan mengambil buku itu di tasnya saat dia mendengar Yoon-hee berkata pelan, “Aku harap tidak ada yang membacanya.”
Di saat bersamaan, dua orang tentara lewat sambil meneriakkan, “Kesetiaan!” dengan suara keras. Yoon-hee mengira In-ha tidak menemukan diarinya, lalu dia berpamitan.
Kelihatannya In-ha merasa bersalah karena telah membaca diari Yoon-hee sehingga dia takut akan mengembalikannya.

Di saat dia akan memanggil Yoon-hee lagi untuk mengembalikan diarinya, Yoon-hee dipanggil oleh seorang pria. Pria itu ingin mengajak bicara Yoon-hee namun Yoon-hee menolaknya. In-ha sudah akan mendatangi Yoon-hee saat teman-temannya memanggilnya. (Lagi?? Ckckck..) Ketiga temannya melihat ke arah Yoon-hee.
“Dia bersama dengan pria lain?” kata Hye-jung dengan sinis.
“Wah, dia cantik,” kata Chang-mo.
“Dia teman sekelasmu?” tanya Dong-wook ke Hye-jung.
“Ya. Tapi aku tidak kenal dia. Aku benci tipe gadis seperti itu.”
“Dia Madonna kelasmu!” kata Chang-mo bersemangat.
“Madonna?” kata In-ha dan Dong-wook bersamaan.
“Bagaimana mungkin dia seorang Madonna?” kata Hye-jung lagi dengan sinis.
Chang-mo menggoda Hye-jung bahwa Hye-jung iri karena gadis itu lebih terkenal daripada dia. Mereka masih memperhatikan Yoon-hee yang menerima pernyataan cinta pria itu. (ya ampun.. sampe berlutut untuk menyatakan cinta..)
Namun Yoon-hee menolaknya dan meminta maaf sebelum pergi.
Dong-wook memandang Yoon-hee dengan terpesona. “Tiga detik?”
In-ha menoleh ke arah Dong-wook. “Tidak ada apa-apa,” kata Dong-wook sambil tersenyum lalu berpamitan masuk ke kelas.

Saat kuliah, In-ha membaca-baca diari Yoon-hee. Dia membaca bahwa tempat duduk di taman adalah favorit Yoon-hee.

In-ha membuka kaca studio dan berharap dia melihat Yoon-hee, namun Yoon-hee tidak ada di bangku taman.
Dia mengingat-ingat tulisan di diari Yoon-hee yang mengatakan ingin menonton film Love Story yang diputar ulang.

Sambil duduk di taman asrama, In-ha membaca diari Yoon-hee. “Tiap malam, aku membaca diarinya. Aku ingin mengenal dia lebih dalam,” kata In-ha dalam hati sambil memandang langit malam.

Keesokan harinya, In-ha membeli tiket film Love Story yang ingin Yoon-hee tonton.
In-ha pergi ke perpustakaan dan mencari buku The Prince yang disukai oleh Yoon-hee menurut diari Yoon-hee. Di saat bersamaan, Yoon-hee juga mencari buku di balik rak. Pandangan Yoon-hee dan In-ha bertemu.
In-ha merasa malu lalu buru-buru pergi. Namun In-ha menabrak petugas perpustakaan hingga buk-buku berserakan. Orang-orang memperhatikan In-ha. Yoon-hee mendatangi In-ha dan membantunya memunguti buku-buku.
Petugas perpustakaan mengangkat buku The Prince dan bertanya apa ini buku yang mau dipinjam In-ha. Yoon-he memandangi buku itu lalu menoleh ke In-ha. Namun In-ha tidak mengaku dan langsung pamit pergi.
Hwang In-sook mendatangi Yoon-he dan bertanya apa dia mengenal In-ha.
“Tidak, tidak terlalu. Kenapa?” tanya Yoon-hee balik.

In-sook merasa heran karena Yoon-hee tidak dengar tentang trio C’est La Vie. Akhirnya In-sook menerangkan ke Yoon-hee.
“Yang pertama DJ Lee Dong-wook. Nama panggilannya Cassanova. Dia mahasiswa kedokeran. Orang tuanya memiliki rumah sakit besar. Dia tampan. Dia pintar. Bahkan dia baik hati. Para wanita tidak pernah meninggalkannya sendirian. Yang kedua adalah Kim Chang-mo. Nama panggilannya Lintah Besar. Dia pria pedesaan yang datang dari keluarga dengan banyak anak. Dia selalu mencari makanan di manapun. Tapi ketika dia menyanyi, dia sangat mempesona. Orang-orang memaafkannya karena suaranya. Dan orang paling penting, Seo In-ha. Dia misterius. Dia mahasiswa kesenian dengan karisma lembut. Dialah yang mengarang lagu untuk mereka. Dia memiliki jiwa artistic sehingga bisa memenangkan beberapa kontes lukis. Juga, dia datang dari keluarga kaya. Orang-orang bilang kau tidak bisa pergi tanpa menginjakkan kaki di tanahnya. Keluarganya sangat tegas. Aku dengar dia sudah punya tunangan.”
Yoon-he kaget. “Dia benar-benar punya tunangan?”
In-sook mengangguk-anggukkan kepala.
“Aku tidak punya,” kata In-ha. Yoon-hee dan In-sook kaget karena In-ha mendengar mereka membicarakannya.
“Aku tidak punya tunangan,” lanjut In-ha sambil menatap Yoon-hee.
In-ha lalu membuang sampah dan pergi.
In-sook merasa malu karena In-ha dengar pembicaraan mereka. Yoon-hee tidak menjawab karena dia juga merasa malu.

In-ha dan Yoon-hee sedang menunggu hujan reda dan tidak sengaja berdiri berdekatan.
Mereka saling menyapa dengan menganggukkan kepala namun tidak mengatakan apa-apa karena sama-sama malu. (serasa ngeliat anak SMP pacaran.. hahaha..)
“Permisi. Tolong tunggu di sini sebentar,” kata In-ha ke Yoon-hee. In-ha lalu langsung berlari ke dalam dan menuju perpustakaan untuk mencari pinjaman payung. Ada seorang wanita yang memiliki payung namun In-ha malu meminjam.
Yoon-hee sedang menunggu In-ha dan melihat ke dalam.
In-ha mencari-cari payung di gudang perpustakaan dan menemukan payung berwarna kuning di tumpukan buku. Dia langsung berlari keluar.

Yoon-hee merasa senang melihat usaha In-ha mencari payung. In-ha membuka payung itu dengan senang tapi... penyangganya rusak sehingga payung tidak mau membuka lebar.
Yoon-hee tersenyum kecil. In-ha akhirnya menyangga payung dengan tangannya dan memayungi Yoon-hee. (hehehe.. pengorbanan demi cinta nih judulnya...)
“Umm.. Apakah kita pulang sekarang?”
Yoon-hee tertawa senang melihat tingkah laku In-ha. Mereka kemudian berjalan pulang bersama. Saat berjalan bersama, Yoon-hee mengungkit tentang kejadian dia dan In-sook membicarakan soal In-ha memiliki tunangan. In-ha menegaskan lagi bahwa dia tidak memiliki tunangan dan In-ha percaya bukan Yoon-hee yang memulai kabar tentang tunangan. Yoon-hee memperhatikan baju In-ha yang terkena air hujan karena posisi payung yang lebih condong ke Yoon-hee. Yoon-hee ingin menggeser payung, tapi dihalangi oleh In-ha. “Aku baik-baik saja,” kata In-ha.
“Aku juga baik-baik saja,” kata Yoon-hee lalu menggeser payung lagi. Namun oleh In-ha payung digeser ke arah Yoon-hee lagi.
“Kalau begitu, lebih mendekatlah ke arahku,” kata Yoon-hee akhirnya.
In-ha menuruti permintaan Yoon-hee dan dia mendekat ke Yoon-hee. (hahaha.. kelakuan mereka malu-malu banget.. hahaha...)
Tapi karena In-ha merasa salah tingkah tiap bahunya bersinggungan dengan bahu Yoon-hee, payung digeser lagi dan dia menjauh. (In-ha ga kayak anak kuliah jatuh cinta..) Pada akhirnya In-ha basah kuyup. Yoon-hee melihat ke In-ha dan bertanya apa dia menyukai hujan.
“Ya. Aku menyukainya. Hujan membuatku merasa sedih atau bahagia,” jawab In-ha.
“Aku juga merasakan hal yang sama,” kata Yoon-hee lalu tersenyum kecil.
Mereka berjalan dalam diam lagi.
“Buku itu...” kata Yoon-hee.
“The Little Prince?”
“Di salah satu puisi di buku itu, ada stanza.. ‘Cinta memiliki dua wajah, kebahagiaan dan kesedihan’. Aku rasa hujan sama seperti cinta,” kata Yoon-hee.

Di pinggir jalan ada genangan air dan saat ada mobil lewat, In-ha langsung menghadang air yang menyembur ke arah Yoon-hee.
“Kau baik-baik saja?” tanya mereka berdua bersamaan.
Mereka salah tingkah. “Pegang ini,” kata In-ha sambil menyodorkan gagang payung. “Aku lupa bahwa aku harus pergi ke suatu tempat.” In-ha kemudian pamit dan berjalan pergi.
“Anu..” kata Yoon-hee. In-ha menoleh.
“Kapan aku harus mengembalikan payung ini padamu?” tanya Yoon-hee.
“Oh, ini.” In-ha kebingungan harus menjawab apa. “Apa yang kau lakukan Minggu ini?” tanya In-ha tiba-tiba dengan mengumpulkan segala keberaniannya.
Yoon-hee merasa kaget bercampur heran.
“Anu.. Film,” kata In-ha terbata-bata. Dia berniat mengeluarkan tiket film yang telah dibelinya, namun mengurungkan niatnya.
“Love Story..” kata In-ha lagi.
“Love Story? Aku sangat ingin menonton film itu,” kata Yoon-hee bersemangat.
In-ha tersenyum. “Kalau begitu, kau mau menontonnya?”
Yoon-hee tersenyum malu tapi akhirnya menganggukkan kepala.
“Sudah diputuskan kalau begitu,” kata In-ha dengan senang kemudian pamit dan berlari pergi. Tiba-tiba In-ha berhenti. “Aku mengambil payung itu di perpustakaan. Jadi kau tidak perlu khawatir,” kata In-ha sambil tersenyum. Dia akan berlari lagi, tapi tersandung. Dia menoleh ke arah Yoon-hee dengan malu dan berpamitan lagi sebelum pergi.

In-ha pergi ke bangku-bangku di pinggir lapangan kemudian mengekspresikan kegembiraannya karena bisa mengajak Yoon-hee pergi. (jadi, ikutan seneng.. susah banget soalnya si In-ha mau ngajak Yoon-hee ^^)

Yoon-hee sudah sampai di halte bis dan menutup payung dengan tersenyum.
Dia melihat poster film Love Story lalu dia membuka payungnya lagi dan mendekat ke poster. “Kau akan basah kuyup,” sapa Dong-wook dari belakang. Yoon-hee memandang ke arah Dong-wook.
“Kau mau bertukar payung denganku?” Dong-wook menawarkan.
“Apa?” tanya Yoon-hee.
“Kau basah. Bahkan aku bisa melihat tetesan hujan. Ayo, bertukar payung.”
“Tidak, aku baik-baik saja.”
Dong-wook lalu mengambil saputangan ke Yoon-hee dan menyuruhnya mengelap tetesan hujan di badannya. Yoon-hee menolak juga tawaran saputangan Dong-wook.
Dong-wook memasukkan saputangannya dan penasaran dengan keacuhan Yoon-hee. “Apakah kau tidak mengenaliku?” tanya Dong-wook.
Yoon-hee memperhatikan Dong-wook lalu berkata, “Ah, kau pria yang ada di lapangan tenis beberapa hari lalu.”
“Bukan. Kita pernah bertemu sebelumnya. Apa kau tidak ingat?”
Yoon-hee tetap tidak ingat.
“Ah, kau melukai harga diriku. Kau mahasiswa kesehatan keluarga kan?”
“Bagaimana kau tahu?”
“Temanku satu kelas denganmu. Aku melihatmu beberapa kali di kampus.”
Yoon-hee diam saja.
Dong-wook lalu melanjutkan pembicaraan. Dia memperhatikan bahwa Yoon-he malihat poster film Love Story dan mengajak Yoon-hee menonton bersama. Namun dari bahasa tubuh Yoon-hee, Dong-wook tahu Yoon-hee menolaknya.
Akhirnya Dong-wook berkata mereka akan menonton bersama bila mereka bertemu secara tidak sengaja sekali lagi.
Yoon-hee ingin menolak namun bisnya sudah datang. Dong-wook menyuruhnya masuk. Yoon-hee pamit, kemudian masuk bis.

Dong-wook merasa senang karena bisa mengajak bicara Yoon-hee. (plot yang sama dengan In-ha...)

Dalam keadaan basah kuyup, In-ha melanjutkan lukisan bergambar Yoon-hee dengan semangat. (kelihatannya lukisan Yoon-hee alasan In-ha cepat-cepat pergi)
Di restoran, Dong-wook sedang menjadi Dj. “Lagu ini aku persembahkan untuk orang-orang yang jatuh cinta padaku di hari berhujan seperti aku,” katanya.
Chang-mo terkejut mendengar perkataan Dong-wook. Namun, Hye-jung membantah dan mengatakan bahwa Dong-wook selalu berkata seperti itu.

Saat In-ha sedang mengarang lagu sambil memikirkan Yoon-hee di balkon, Dong-wook datang. Dong-wook memuji karangan In-ha dan menyuruhnya menampilkan di restoran, tapi In-ha tidak mau.
Dong-wook tiba-tiba bertanya, “Tiga detik yang kau katakan padaku... Kau sudah menemukan gadis takdirmu kan? Itulah alasan kau mengarang lagu kan?”
In-ha hanya tersenyum kecil. Dong-wook merasa senang untuk In-ha dan berkata bahwa mereka benar-benar teman karena Dong-wook juga sudah menemukan gadis yang dia sukai. (Ouch.. Gadis yang sama aku rasa...)

Dong-wook mengarang cerita flashback bahwa dia bertemu dengan Yoon-hee di halte bis. Yoon-hee memberitahu Dong-wook bahwa tangan Dong-wook berdarah dan menawarkan bantuan merawat lukanya.
“Dia orang yang merawat lukaku selain ibuku. Aku rasa dia seperti ibuku,” kata Dong-wook.

Dong-wook mengambil tiket film Love Story yang sedang dikeringkan In-ha.
“Kau akan pergi dengan gadis yang kau sukai? Wah, aku iri. Aku baru saja ditolak. Tapi aku berjanji bahwa bila lain kali kami bertemu, kami akan menonton film itu bersama. Sepertinya aku harus mencari cara agar bertemu dengannya.”
In-ha mendengarkan cerita Dong-wook dengan seksama. “Aneh. Film yang sama?” katanya pada Dong-wook.
“’Cinta tidak mengenal maaf’? aneh,kenapa para wanita sangat menyukai kalimat itu?” tanya Dong-wook.
In-ha teringat bahwa Yoon-hee juga suka kalimat itu. “Aku tidak tahu. Mungkin karena cinta datang dari hatimu. Kau tahu isi hati satu sama lain meskipun aku tidak mengatakannya.”
“Ah, aku paham. Seandainya aku wanita, aku pasti menyukaimu,” kata Dong-wook bercanda.
“Kalau aku seorang wanita, aku tidak akan pernah menyukaimu,” kata In-ha menggoda Dong-wook.

In-ha datang ke perpustakaan dan mengingat isi diari Yoon-hee yang tentang hal-hal yang dia sukai: pojokan puisi di lantai 4 perpustakaan, bunga Baby’s Breath, The Little Prince karangan Saint Exupetry, musim semi, dan Franz Schubert.

Malam harinya, In-ha sedang membaca buku diari Yoon-hee. Dia lalu mengambil tiket dari dalam buku yang didudukinya, dan tersenyum senang.

In-ha diajak oleh Dong-wook dan Chang-mo ikut kencan buta. Dong-wook berkata ini adalah salah satu cara agar dia bertemu dengan gadis yang disukainya lagi dan bisa mengajaknya nonton film.
Karena itulah dia meminta bantuan Chang-mo dan In-ha. Chang-mo sangat penasaran dengan gadis yang membuat Dong-wook berusaha sedemikian keras. In-ha juga tidak menyangka bahwa gadis yang disukai Dong-wook adalah gadis yang disukainya juga.
“Aku dengar dia satu kelas dengan Hye-jung,” kata Chang-mo.
In-ha terkejut. “Kesehatan keluarga?” tanyanya.
“Ya. Dia memohon-mohon pada Hye-jung selama beberapa hari.”
In-ha mulai merasa curiga. Saat Yoon-hee, In-sook, dan Hye-jung datang kecurigaannya terbukti, bahwa gadis yang disukai Dong-wook adalah Yoon-hee.
In-ha hanya diam saja memandang Yoon-hee.
Dong-wook berpura-pura seakan-akan kejadian pertemuan mereka tidak disengaja dan ini adalah takdir. (kok aku jadi kesal ya sama Dong-wook? Padahal Dong-wook ga tau apa-apa...)
Saat Hye-jung menanyakan tentang film Love Story, Dong-wook tidak memberi kesempatan Yoon-hee untuk menjawab dengan langsung mengatakan bahwa Yoon-hee berjanji akan menonton dengannya bila mereka tidak sengaja bertemu untuk kedua kalinya.

Dong-wook mengkopi kata-kata In-ha bahwa cinta datang dari hati, karena itu tidak perlu ada kata maaf. Yoon-hee tersentuh mendengar kata-kata Dong-wook.
Para pria membuat permainan dengan meletakkan barang kepunyaan mereka secara rahasia dan meminta para gadis memilih. Saat Yoon-hee dihadapkan pada pilihan pensil atau tensoplas, Yoon-hee memilih tensoplas.
In-ha merasa senang dengan pilihan Yoon-hee, namun kakinya ditendang oleh Dong-wook dan mengatakan bahwa pensil itu adalah miliknya dan bahwa dia dan Yoon-hee betul-betul berjodoh. (Huh..)
In-ha dan Yoon-hee saling berpandangan namun tidak mengatakan apa-apa.
“Apa yang akan dikatakan Dong-wook tentang Yoon-hee? Dia menyukai bunga Baby’s Breath dan Franz Schubert. Dia juga gadis yang disukai temanku. Dulu aku merasa bahagia karenanya. Aku juga merasa sedih karenanya,” kata In-ha dalam hati sambil melihat Dong-wook memberikan bunga Baby’s Breath ke Yoon-hee.
Saat Yoon-hee melihat ke arah In-ha, In-ha tersenyum seakan-akan senang melihat Yoon-hee menerima karangan bunga dari Dong-wook.

Yoon-hee masuk ke toko baju dan mencari In-sook.
“In-ha tidak menyukai siapa2?” tanya Hye-jung.
“In-ha jarang keluar. Dia kembali dengan cepat saat dia pergi keluar,” jawab In-sook sambil mengaca. “Tidakkah kau pikir dia sedikit tidak menyukai Yoon-hee?”
Yoon-hee langsung bersembunyi sambil mendengar pembicaraan Hye-jung dan In-sook.
“Kenapa In-ha menghindari Yoon-hee?” tanya Hye-jung lagi.
“Aku tidak tahu. Apakah In-ha berpikir Yoon-hee menyukainya?” tanya In-sook sambil menoleh ke Hye-jung.
“Apa?”
“Itulah alasan In-ha merasa tidak nyaman dan menghindari Yoon-hee. Itu masuk akal kan?” (Aku rasa bukan teman yang baik bila membicarakan teman di belakangnya...)
Hye-jung tertawa mendengar analisa In-sook.
“Itulah alasanku...” In-sook kembali berkaca dan melihat Yoon-hee yang sedang bersembunyi dari pantulan kaca. Dia langsung berhenti berbicara. “Yoon-hee!”
Yoon-hee langsung datang dan bersikap seakan-akan tidak mendengar apapun.
Hye-jung dan In-sook saling berpandangan dengan salah tingkah.

Dong-wook duduk di sebelah In-ha yang sedang melukis di studio. Dong-wook meminta bantuan In-ha karena menurutnya In-ha tahu Yoon-hee lebih baik.
In-ha hanya tersenyum kecil sambil terus melukis. “Kenapa kau bisa berpikir begitu?”
“Aku rasa dia mirip denganmu. Dia menyukai semua yang kau katakan. Dia menyukai Love Story. Dia juga suka Baby’s Breath.”
In-ha menolak pendapat Dong-wook.
“Ayolah! Beri aku beberapa petunjuk. Kalau aku tidak bisa melakukan apapun saat festival, kami akan tetap berteman selamanya.”
In-ha berhenti melukis dan menoleh ke arah Dong-wook. “Jangan lakukan apapun. Cukup tunjukkan isi hatimu,” nasehat In-ha.
“Bagaimana caranya?”
“Bagaimana caranya? Aku tidak menyukainya,” kata In-ha kasar.
Dong-wook merasa aneh dengan nada bicara In-ha, dan berpikir dia melakukan sesuatu yang membuat In-ha marah.
In-ha diam saja dan melepas peralatan melukisnya lalu berpamitan menuju kelas.
Chang-mo yang memakan buah-buahan di meja di studio menyembunyikan buah yang dimakannya saat In-ha lewat.
Dong-wook langsung berdiri dan menyusul In-ha.

Chang-mo baru saja merasa lega karena berhasil menyembunyikan buah dan akan memakan buah selanjutnya saat telinganya dijewer oleh pria bertubuh gendut.
Ternyata pria itu pemilik buah-buahan itu. (ckckck.. kebiasaan makan apapun di manapun tidak hilang-hilang juga...)

In-sook, Yoon-hee, dan Hye-jung keluar dari toko baju. Di luar ada pemeriksaan baju dan rambut mahasiswa oleh polisi. In-sook ketakutan karena rok-nya termasuk rok mini. Dia langsung menurunkan roknya sehingga lolos dari pemeriksaan polisi.
Hye-jung menyindir In-sook yang pintar dalam menghindari polisi dan seharusnya In-sook begitu juga dalam hal pelajaran.
In-sook tidak mendengarkan dan langsung memanggil taxi. Dia pergi seorang diri karena Hye-jung dan Yoon-hee ada keperluan lain.

Saat berjalan berdua, Hye-jung menanyakan pendapat Yoon-hee tentang Dong-wook. “Kau tahu bahwa Dong-wook menyukaimu kan? Aku tidak bermaksud memberi tekanan. Tapi, aku rasa Dong-wook benar-benar serius”.
Yoon-hee tersenyum. “Aku benar-benar suka saat Dong-wook mengatakan bahwa cinta datang dari hati. Itulah alasan kita tidak perlu mengatakan maaf (kata-kata In-ha kayaknya itu). Aku senang saat dia mengatakan dia menyukaiku.”
Hye-jung merasa senang karena Dong-wook sepertinya tidak bertepuk sebelah tangan.
“Aku senang mendengarnya, karena aku sedikit khawatir karena apa yang In-sook katakan.”
“Apa?” tanya Yoon-hee.
“Bahwa ada sesuatu antara kau dan In-ha.”
Yoon-hee bingung akan mengatakan apa. Hye-jung menjatuhkan bom dengan mengatakan bahwa dia menyukai In-ha. Dia meminta Yoon-hee tidak mengatakan pada siapa pun karena ini adalah rahasia, bahkan In-sook tidak tahu (jelas, kalo In-sook tau, maka semua orang juga akan tau..). “Ada seorang pelukis yang hanya menggambar wajah istrinya dan tidak mau menggambar wanita lain. In-ha mengatakan bahwa dia juga ingin seperti itu. Aku akan membuat In-ha hanya melukisku (udah ga mungkin kayaknya. Soalnya dia udah nggambar Yoon-hee..),” kata Hye-jung optimis.
Yoon-hee tidak mengatakan apapun namun wajahnya menunjukkan dia sedih dan berusaha bersikap biasa.

Chang-mo menangis malu karena dia disuruh berpose hanya mengenakan handuk di pinggangnya untuk mahasiswa-mahasiswa kesenian.
Ternyata pria yang dimakan buahnya adalah guru di kesenian. Dia menyuruh Chang-mo mengubah-ubah posisinya.
Para mahasiswa menahan tawa melihat Chang-mo. (akhirnya, ketiban apes juga Chang-mo.. hehehe..)

Chang-mo selesai berganti baju dan mengomel karena dia disuruh berpose untuk dilukis karena dia seorang pria.
Dia bertanya ke salah satu mahasiswa apakah sudah menjadi tradisi menggambar pria telanjang dan bagaimana dengan model wanita. Mahasiswa itu menjawab bila wanita maka mereka akan menggambar dengan pose telanjang.
Chang-mo terkejut dan berpikir bahwa In-ha juga pasti menggambar model wanita itu. Chang-mo mencari-cari hasil lukisan In-ha dengan harapan menemukan lukisan wanita telanjang.
Chang-mo membuka-buka loker In-ha dan menemukan gambar Yoon-hee di kertas. Di balik gambar di kertas, Chang-mo menemuka lukisan Yoon-hee di atas kanvas (aduh..)
“Bukankah ini Yoon-hee? Kenapa In-ha...?”

In-ha berjalan sendirian dengan wajah sedih dan disusul oleh Dong-wook dengan ceria. Dong-wook bertanya apa In-ha marah padanya, yang dijawab In-ha bahwa dia tidak marah pada Dong-wook.
“Baiklah. Aku akan menunjukkan isi hatiku. Itulah kenapa kau merasa tidak senang kan? Karena mungkin aku akan mematahkan hatinya,” kata Dong-wook sambil berjalan beriringan dengan In-ha sambil memeluk bahu In-ha.
“Bukan seperti itu,” kata In-ha.
“Tentu saja seperti itu. Aku tahu segalanya.”
In-ha memandang tajam Dong-wook hingga Dong-wook salah tingkah.
“Kau tidak suka caraku memperlakukan para wanita. Tapi, aku benar-benar serius kali ini. Percayalah padaku.”
In-ha tersenyum kecil.
“Apa yang terjadi pada gadis itu?” tanya Dong-wook tiba-tiba.
In-ha melihat Dong-wook, tidak mengerti.
“Gadis tiga detik itu. Apa kau tidak bertemu dengannya lagi?”
“Aku menyerah,” kata In-ha.
Dong-wook heran dan menanyakan alasannya.
“Dia memiliki orang lain.”
“Apa? Karena itu kau mundur? Tanpa melawan?”
“Aku tidak bisa melawan dan aku tidak ingin melawan. Seseorang yang bisa menunjukkan rasa sukanya. Aku benar-benar iri,” kata In-ha sambil memegang pundak Dong-wook. Dong-wook bingung apa maksud In-ha mengatakan begitu dan akan bertanya, namun mereka dipanggil oleh Hye-jung yang berjalan bersama Yoon-hee. In-ha memandang Yoon-hee namun segera memalingkan muka.

Dong-wook mengajak Hye-jung, Yoon-hee, dan In-ha pergi ke suatu tempat karena cuaca sedang bagus. In-ha pamit dengan mengatakan bahwa dia ada keperluan.
“Jadi benar ya?” tanya Hye-jung tiba-tiba. In-ha berhenti berjalan dan menoleh ke Hye-jung.
“Kau merasa tidak nyaman dengan Yoon-hee?” tanya Hye-jung lagi.
In-ha kaget. Yoon-hee meminta Hye-jung agar tidak mengatakan apa-apa lagi.
“Apa maksudmu?” tanya Dong-wook.
“In-sook bilang In-ha tidak muncul bila ada Yoon-hee. Sepertinya In-ha menghindari Yoon-hee.” Dong-wook tidak percaya karena In-ha tidak punya alasan untuk menghindari Yoon-hee.
Yoon-hee merasa tidak nyaman dan berpamitan karena dia ada kuliah.
Dong-wook kesal dengan Hye-jung karena berkata hal seperti itu. Dong-wook lalu menyusul Yoon-hee.
“Apa kau benar-benar tidak nyaman dengan Yoon-hee?” tanya Hye-jung ke In-ha.
“Kenapa aku harus merasa tidak nyaman?” tanya In-ha balik. “Dong-wook menyukainya. Aku pun setuju,” kata In-ha mengelak.

In-ha sedang berjalan sendirian saat dia melewati bangku taman.
“Aku rasa, aku tidak bisa melanjutkan lebih lama lagi,” kata In-ha dalam hati sambil memandangi bangku taman.

Hari sudah malam dan hujan saat Yoon-hee keluar dari perpustakaan.
Tiba-tiba In-ha yang sedang membawa payung datang dan akan menuju ke perpustakaan. Yoon-hee menyapa In-ha. Suasana canggung melingkupi mereka.
In-ha menutup payungnya dan melihat bahwa Yoon-hee tidak membawa payung.
“Kau tidak membawa payung?” tanya In-ha.
“Tidak apa-apa. Aku sedang menunggu teman priaku. Aku bisa pulang bersamanya,” jawab Yoon-hee.
In-ha berpamitan dan masuk. Yoon-hee merasa sedih.

Tiba-tiba In-ha kembali dan memberikan payung ke Yoon-hee. “Jangan menunggu temanmu. Pulanglah dulu,” kata In-ha sambil memegang payung.
Yoon-hee menerima payung itu.
“Kenapa kau tidak keluar bersama kami hari ini? Kami menantimu,” tanya In-ha.
“Aku... Bila kau tidak keluar dengan teman-temanmu karena aku.. aku berpikir lebih baik aku tidak ikut keluar.”
“Siapa yang mengatakan begitu? Aku hanya sedang sibuk. Apakah itu alasan kau tidak ikut keluar?”. Yoon-hee tersenyum dengan salah tingkah.
“Kau tidak perlu bersikap begitu. Kenapa aku harus merasa tidak nyaman denganmu? Aku merasa senang karena kau dan Dong-wook kelihatannya cocok.”
“Dong-wook dan aku belum memutuskan berpacaran,” Yoon-hee mengoreksi.
In-ha kelihatan tidak nyaman dan mengatakan bahwa dia akan mengoreksi pernyataannya. “Aku harap kalian akan cocok satu sama lain. Mari berteman juga,” kata In-ha berpura-pura ceria. Yoon-hee merasa terkejut dan tidak mengatakan apapun. “Datanglah ke festival. Aku akan menemuimu saat itu,” kata In-ha dengan tersenyum lalu berpamitan masuk ke perpustakaan.

Dengan perasaan sedih Yoon-hee berjalan pulang memakai payung.
Lewat jendela perpustakaan, In-ha mengamati Yoon-hee yang berjalan pulang dengan sedih juga.

Di studio, In-ha memandangi lukisan Yoon-hee.
“Aku pikir perasaan ini bisa berubah,” kata In-ha dalam hati.
Dia membulatkan tekad, dan mengambil lukisan-lukisan Yoon-hee dan memasukkannya dalam lemari.
“Bila aku berubah, kami bisa berteman.”
In-ha lalu menutup pintu lemari dengan penuh tekad.


To be continued...



»Mungkin bagi beberapa orang setting tahun 70-an terasa aneh karena gaya baju dan rambut sangat berbeda. Rambut dan bajunya sangat jadul dibandingkan jaman sekarang. Tapi inilah kehebatan drama Korea. Para kru mampu menciptakan suasana yang benar-benar jaman dulu.
Dari segi cerita, aku rasa sudah cukup bagus. Walaupun beberapa orang mungkin tidak setuju dengan sikap Seo In-ha yang memutuskan mundur tanpa berusaha mendekati Kim Yoon-hee dan memilih mengalah saat teman baiknya, Lee Dong-wook menyukai Yoon-hee. Tapi itulah yang disebut pengorbanan cinta demi persahabatan.. ^^. Akting Jang Geun-suk dalam mengekspresikan kesedihannya sangat bagus. Sedangkan acting Yoona sedikit kaku, namun bisa tertutupi dengan acting Jang Geun-suk yang bagus.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Creating Website

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Copyright © 2013. Iz blog - All Rights Reserved